Sikunir Golden Sunrise: Kemewahan Matahari Terbit di Sikunir

Pertama kali tahu tempat ini dari rekan kerja saya di Wonosobo. Karena penasaran, saya coba cari-cari info di dunia maya. Ternyata sudah ada beberapa postingan di salah satu anggota grup Backpacker di Indonesia tentang tempat ini. Foto-foto itu menggugah jiwa traveller saya. Dan akhirnya dapatlah kesempatan itu untuk menikmati matahari terbit yang cantik di Bukit Sikunir, Desa Sembungan, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah di suatu hari di bulan Maret 2016.

Waktu yang masih berada dalam musim penghujan sempat membuat saya khawatir. Tetapi karena sudah menjadi niat, maka pergilah saya menuju ke Sikuir.

Kali ini perjalanan saya tidak dengan banyak persiapan, mengalir saja. Tidak terlalu banyak browsing, hanya sempat searching penginapan dengan view cantik di Google. Lalu muncullah suatu gambar yang menarik di mana ada kamar dengan jendela besar yang menghadap suatu telaga, mengingatkan saya ke penginapan-penginapan yang sering saya inapi ketika saya travelling di New Zealand. (Penginapan ini bisa diklik di homestaysikunir.com).

12378095_10207715119490286_6577280846390402568_o.jpg

Pemandangan dari kamar

Saya mengontak Mas Afton, kontak person yang ada di web tersebut melalui Whats App, untuk booking kamar yang seperti di iklan tersebut. Perlu diingat ada beberapa homestay di daerah ini dengan kisaran harga Rp 250.000 – 300.000 / malam. Kamar yang ada di gambar di atas bertarif Rp 300.000  / malam. (Dalam satu homestay ada beberapa kamar yang berbeda. Oleh karena itu tegaskan kamar mana dan homestay mana yang anda inginkan.)

Satu tips dari saya, jika ingin menuju homestay ini, jangan mengikuti petunjuk Google Map. Waktu itu saya sempat kesasar gara-gara mengikuti petunjuk Google Map sehingga harus melewati jalan perkampungan yang sempit dan ternyata malah tidak bisa sampai ke Sikunir. Lebih baik memutar ke Dieng menuruti petunjuk jalan karena jalannya sudah halus beraspal dan relatif lurus walau menanjak. Setelah sampai kawasan Dieng, lanjutkan sampai ke pertigaan di mana ada Masjid Baiturrahman, belok kiri ke arah Sikunir melewati Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi. Rute ini akan jauh lebih enak dan aman dilewati. Begitu memasuki daerah Sikunir, akan ada pos penjagaan di mana penduduk desa akan menarik retribusi sebesar Rp 10.000 / orang.

Oh ya, di tempat homestay yang saya inapi, ada Perdes di mana cowo dan cewe yang hanya datang berdua, yang belum sah menjadi suami istri, tidak boleh sekamar bahkan tidak boleh satu homestay. Justru kalau bertiga atau berempat, malah diijinkan sekamar karena ada kepercayaan jika beramai-ramai, masak sih akan berlaku ‘macam-macam’ di depan orang lain 😀

Satu lagi, jika kepengen masih dapat sinyal hape di sini, pastikan ada SIM card Telkomsel. Sampai pada saat artikel ditulis, hanya ada satu jaringan yang sampai ke daerah ini.

Nah, satu keuntungan jika tinggal di dekat Sikunir seperti yang saya lakukan saat itu, tidak perlu bangun terlalu pagi untuk menikmati matahari terbit. Cukup siap-siap jam 4 pagi lalu berangkat. Pakai baju hangat / jaket, dan jangan lupa bawa senter yang terang. Anda bisa menggunakan jasa pemandu untuk menemani perjalanan dengan tarif Rp 100.000.

Keuntungan menggunakan jasa local guide adalah kita ga perlu repot-repot dengan banyak persiapan. Cukup bawa badan aja dan siapkan fisik yang prima. Plus kita bisa tahu kehidupan lokal dengan keunikan-keunikannya.

IMG_2390.JPG

Tempat parkir yang luas dan datar

 

Dari homestay, saya dijemput oleh Mas Afton sebagai pemandu. Deket sih sebetulnya, dari homestay ke tempat parkir, jalan kaki juga sampai. Tapi waktu itu kami memilih menghemat tenaga sehingga memakai kendaraan.

 

IMG_2387.JPG

Jalan masuk ke arah Puncak Sikunir yang harus dilewati dengan berjalan kaki

Dari tempat parkir, perjalanan masih relatif panjang. Untuk menuju Puncak Sikunir, kita harus melewati jalan menanjak sepanjang 800 meter melewati tangga-tangga cukup menguras stamina.

Perjalanan menanjak ditambah oksigen yang masih tipis karena hari yang masih gelap, akan mengganggu pernafasan. Tapi jangan khawatir, jika memang nafas mulai ngos-ngosan, beristirahatlah. Banyak spot yang disediakan untuk sekedar duduk-duduk sambil menata nafas. Oh ya, di jalur ini ada beberapa toilet umum, tempat sholat, dan penjaja makanan dan minuman. Jadi no worry 🙂

Ini nih view yang didapat dari Pos yang paling atas:

IMG_2312.JPG

Saya menikmati pemandangan matahari terbit yang begitu mewah

Berhubung waktu itu masuk musim penghujan, kemewahan matahari terbit tersebut hanya dapat dinikmati selama 15 menit. Waktu matahari terbit paling lama terjadi pada saat musim kemarau. Hanya saja suhu juga menjadi semakin dingin. Menurut pemandu, suhu bisa drop sampai -3 C.

IMG_2343.JPG

Mengobrol dengan pemandu. Di belakang ada pasangan yang sedang berfoto 🙂

Puas menikmati pemandangan, kami mencari makanan dan minuman yang hangat-hangat. Untung sudah ada mendoan yang siap disantap. Ah…enak sekali…makan mendoan panas, minum teh yang juga panas, dengan dikelilingi pemandangan khas puncak gunung yang sungguh menawan.

Dari hasil obrolan saya dengan Mas Afton, Sikunir 100% dikelola oleh penduduk setempat. Lebih dari 400 orang penduduk desa menggantungkan pendapatannya dari tempat wisata alam ini. Jumlah yang tidak sedikit ya?

Mas Afton adalah yang pertama kali membawa Sikunir ke dunia maya. Mulai dari tahun 2011, Mas Afton getol berpromosi sehingga akhirnya tempat ini menjadi semakin ramai dikunjungi wisatawan.

IMG_2379.JPG

Spot foto baru dengan tulisan Sikunir

Salut kepada Mas Afton dan penduduk desa Sembungan, daerah di mana Bukit Sikunir ini berada. Mereka tidak kenal lelah untuk memajukan tempat ini. Salah satu yang terbaru adalah dengan penambahan spot-spot foto baru seperti gambar saya di atas. Keren kan?

Trip saya kali ini membuat saya ingin lebih explore daerah Jawa Tengah, provinsi kelahiran saya. Banyak wisata alam yang menggoda, hanya saja belum tergarap dengan baik. Harapan saya, semoga semakin banyak netizen yang mau meluangkan waktu sharing tempat-tempat wisata alam sehingga dapat menyajikan informasi bagi lainnya.

Salam travelling!

12841239_10207715148331007_1425445878623014026_o.jpg

 

Advertisements

2 responses to “Sikunir Golden Sunrise: Kemewahan Matahari Terbit di Sikunir

  1. Saya kenal mbak Pipiet. Thanks for sharing your adventure. The scenery looks beautiful and tranquil. I’d love to visit the place one day 🙂

    • Halo Mbak…terimakasih ya sudah mampir…
      Tempat ini memang indah, mbak. Dan saya terkesan dengan swakelola nya oleh penduduk desa setempat 🙂

      Salam,
      Pipiet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s