Diskusi Panel Penanganan Permasalahan Pantai di Teluk Semarang

Sehubungan dengan isu giant sea wall di Semarang yang sedang marak akhir-akhir ini, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Prov Jateng bekerjasama dengan Komite Nasional Indonesia International Commission on Irrigation and Drainage (KNI-ICID) Jawa Tengah dan Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) Cabang Jawa Tengah mengadakan Diskusi Panel dengan topik Penanganan Permasalahan Pantai di Teluk Semarang yang diadakan pada tanggal 14 Mei 2014 kemarin di Ruang pertemuan Hotel Grasia Semarang.

Diskusi Panel

Diskusi dibuka secara pribadi oleh Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, dan dihadiri oleh ± 200 orang dari 170 instansi stakeholder dari jajaran Kementerian Pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Semarang, Pemerintah Kabupaten Kendal, Pemerintah Kabupaten Demak, akademisi dari universitas se-Jawa Tengah, dan LSM/Lembaga lain.

Dalam sambutannya, Bapak Gubernur menekankan bahwa beliau sangat mengharapkan dari diskusi ini tercipta adanya solusi penanganan rob secara holistik yang bisa dilakukan secepatnya dan tepat sasaran.

Keynote speech diberikan oleh Ketua KNI-ICID Indonesia, Bapak Ir. Siswoko Sastrodiharjo, Dipl. HE. Beliau menyatakan bahwa ‘bebas banjir’ adalah mustahil dan merupakan suatu utopia, tidak bisa dihindari tapi bisa dimanajemen supaya resiko banjir dapat dimitigasi. Paradigma baru yang harus disosialisasikan adalah untuk menangani banjir harus memperhatikan antara fenomena alam dan aktivitas manusia.

Paparan dilakukan oleh 5 pemapar yaitu Prof. Sutrisno Anggoro (materi: Kondisi Wilayah Pesisir dan Laut di Teluk Semarang) dan Prof. Suripin (materi: Keterpaduan antara Perlindungan Pantai dan Sistem Drainase Perkotaan Berkelanjutan)      dari Ikatan Alumni Teknik Sipil (Ikateksi) UNDIP; Cao Heng Fang dari China Communications Construction Company / CCCC Tian Jin (materi: Semarang Coastal Problem); Ir. John Wirawan dari Ecology, Management, Technology, and Change / Ecolmantech Consultant (materi: Solusi Holistik terhadap Banjir dan Rob sebagai Permasalahan Kronis Jakarta dan Semarang dan Pantura Jawa); dan Mitsuo Miuoro dari JICA (materi: Semarang Pumping Station and Land Subsidance).

  • Menurut paparan FPIK-Ikateksi-UNDIP, luasan mangrove di pantai utara Kota Semarang mengalami penurunan sebanyak 78 % (seluas 99,5 Ha) dari tahun 2003 sampai tahun 2010. Hal ini semakin memperparah masalah erosi pantai dan banjir rob di Teluk Semarang. Selain itu faktor pemicu yang lain adalah: pengambilan air tanah, peningkatan beban, dan pengaruh Gas Rumah Kaca. Untuk menangani permasalahan pantai di Teluk Semarang, Ikateksi menawarkan solusi terpadu termasuk pembangunan sabuk pantai, di mana mampu mengintegrasikan fungsi perlindungan pantai dan penanggulangan rob. Drainase dataran rendah ditangani dengan sistem polder. Badan sungai dilakukan restorasi dan muara tetap terbuka langsung ke laut. Berkaitan dengan kawasan hulu, debit banjir dikendalikan dengan kegiatan konservasi sumber daya air, dengan fasilitas penampungan maupun resapan. Sedang kerugian banjir dapat diminimalisir dengan mengembangkan sistem peringatan dini banjir.
  • CCCC merupakan kontraktor engineering internasional terbesar di Cina yang sudah melakukan beberapa proyek pembangunan dam (termasuk sea wall), jembatan, jalan, pelabuhan, dll di Cina. Mereka membandingkan kondisi Semarang seperti kota-kota lainnya di Cina di mana terdapat problem banjir.
  • Ecolmantech sebagai pihak konsultan, mengusulkan untuk memisahkan air lautan dari daratan dengan membangun dam lepas pantai (DLP) sehingga air laut tidak bisa menggenangi tanah daratan dan sekaligus menghasilkan danau retensi dan reservoir air tawar skala raksasa di antara DLP dan pantai. Karena membawa banyak manfaat, DLP diprediksi dapat meningkatkan kegiatan ekonomi di Jawa Tengah. Ditambah dengan pemberdayaan masyarakat kecil, Jawa Tengah dapat menjadi salah satu provinsi yang paling dinamis dan terkaya di seluruh Indonesia. Pembangunan DLP akan memakan waktu lama sekitar 10-15 tahun. Oleh karena itu diusulkan agar pembangunan dimulai dengan tahap pertama yaitu pembangunan polder lepas pantai (PLP) yang diperkirakan bisa selesai dalam waktu 5 tahun.
  • Dari pihak JICA, pemapar adalah pihak Oriental Consultants Company Ltd. Proyek yang dilakukan adalah Perbaikan Sistem Drainase Perkotaan di Semarang dengan dana berasal dari JICA loan dengan waktu dari Maret 2006 sampai dengan Juli 2015. Proyek ini termasuk membangun pumping station dan retarding pond.
  • Setelah pemaparan, dilakukan pembahasan melalui diskusi oleh beberapa pihak terkait. Berikut beberapa poin penting yang muncul dari diskusi tersebut:
  • Bappenas telah memiliki Master Plan Pengembangan Pesisir Kota Semarang yang disusun pada tahun 2011.
  • Dari pihak BPPT, terdapat UPT Balai Pengkajian Dinamika Pantai yang berlokasi di Jogjakarta. Secara teknis, belum ada kajian menyeluruh tentang pesisir Semarang. Beliau menyatakan tidak setuju dengan rencana CCCC dari Cina membangun giant sea wall karena hanya bersifat ‘menjual’ saja (lebih ke kepentingan bisnis), lebih baik mengoptimalkan sumber daya lokal yang ada bahkan beliau berujar bisa mengalokasikan anggaran lebih banyak untuk kajian di Semarang.
  • Menurut Prof. Sutrisno Anggoro, biota laut akan rusak dan bahkan terancam punah jika ekosistem asli nya rusak (karena pembangunan), sebagai contoh ketika ada pembangunan di sungai Nil, 19 jenis ikan punah.
  • Menurut pakar hidrologi, Dr. Ir. Nelwan, Dipl Eng, giant sea wall tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang. Untuk merubah perlu sidang dengan DPRD dan pengesahan dari Mendagri. Jadi dari sisi legalitas, jelas sudah sulit. Bahkan masih perlu penelitian dengan data-data terkait, diperkirakan 3-4 tahun hanya untuk meneliti.
  • Kami berkesempatan menanyakan komitmen CCCC terhadap ekosistem mangrove. Mereka menjawab bahwa saat ini mereka sedang membantu program hutan mangrove di Bali dan hasilnya telah dipakai pemerintah dalam revisi kebijakan. Namun tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai program tersebut.

KESIMPULAN

  1. Coastal Cell Teluk Semarang membentang dari Delta Bodri di Kabupaten Kendal sampai Delta Wulan di Kabupaten Demak.
  2. Terdapat 3 konsep yang dipaparkan di Diskusi Panel ini untuk menangani permasalahan rob dan abrasi di Teluk Semarang, yaitu sabuk pantai (dari Ikateksi UNDIP), dam lepas pantai (dari Ecolmantech), dan giant sea wall (dari CCCC).
  3. Perlu kajian lebih lanjut mengenai 3 konsep ini, dengan penelitian yang membutuhkan waktu tahunan.
  4. Penanganan permasalahan banjir diperlukan adanya rekayasa coastal serta restorasi dan konservasi pantai dengan penanaman Mangrove, di mana tidak dapat dilakukan dengan instan.
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s