Travel Writing: Keindahan Kota Bekas Gempa Christchurch

Getaway Nov 2012

Kenapa ke Christchurch? Kan habis berkali-kali gempa?

Pertanyaan ini yang sering ditujukan kepada saya sebelum berangkat. Jawabannya sih mudah, karena  saya percaya bahwa Christchurch is still a stunning city, yes it was shaking but it’s alright. Memang berita-berita yang ada suka dilebih-lebihkan sehingga tampaknya seluruh kota hancur dan menderita, padahal tidak. Kota Christchurch masih hidup bahkan oleh Lonely Planet dikatakan sebagai one of New Zealand’s most exciting cities.

Christchurch adalah kota terbesar di Pulau Selatan Selandia Baru. Selandia Baru sangat terkenal dengan pemandangannya sehingga sering dipakai menjadi lokasi syuting film-film Hollywood, termasuk trilogy nya The Lord of the Rings.

Untuk menikmati perjalanan secara maksimal dan efisien, saya sarankan melakukan dengan kendaraan (mobil). Walaupun ada bis (dalam kota) dari pagi sampai malam, frekuensinya masih terhitung agak jarang bagi beberapa tujuan tertentu, bisa sampai 1 jam sekali. Selain itu, jika hendak bepergian luar kota, bis yang tersedia tidaklah banyak dan tidak setiap waktu ada. Oleh karenanya, saya menyarankan eksplorasi dengan berkendara, tentu saja dengan bantuan GPS biar tidak nyasar.

Menyewa mobil di Selandia Baru tidaklah susah. Banyak pilihan tempat persewaan mobil dengan harga kompetitif. Selain itu, supaya bisa menyewa mobil, kita cukup bermodalkan SIM dan kartu kredit dari Indonesia.

Berikut ini adalah pengalaman saya 3 hari berkendara di Christchurch.

Hari I:

Hal yang pertama dilakukan setelah sampai di Christchurch International Airport adalah mengambil brosur-brosur wisata yang tersedia di terminal kedatangan. Brosur-brosur ini sangat lengkap bahkan ada pesawat telepon yang dapat digunakan secara gratis untuk menghubungi tempat penginapan, tempat wisata, dan lain lain.

Brosur-brosur tersebut saya pelajari sambil makan bakmi kuah di restoran Noodle di food court nya airport level 1. Asiknya makan di sini, saya bisa memilih jenis bakmi, kuah, sayuran, dan pelengkap lainnya sendiri.

Keluar dari terminal kedatangan, saya lalu mengambil mobil sewaan. Biasanya, jika kita sudah minta sebelumnya (terutama pada waktu memesan online), mobil yang kita sewa sudah tersedia di tempat parkir bandara. Tetapi ada juga company yang meminta kita untuk datang ke kantornya dulu baru bisa mengambil mobilnya. Tapi jangan khawatir, jenis company yang terakhir ini biasanya menyediakan shuttle dari dan ke airport.

Begitu paperwork sewa mobil beres, saya langsung menuju  ke International Antarctic Centre, yang terletak 5 menit dari airport. Di sini saya merasakan seperti apa hidup di Antartika, merasakan badai salju, mengendarai the Hagglund, (kendaraan amfibi Antartika), menonton film 4D di mana saya seakan-akan menjadi penjelajah kutub, dan tentu saja melihat penguin. Tetapi yang paling berkesan bagi saya adalah ketika saya bisa mengelus dan berfoto bersama penguin (bulu mereka sangat lembut lho).

Bosan berdingin-dingin ria, saya lalu menuju ke Re:START Mall, mall yang terdiri dari kontainer-kontainer yang disulap menjadi toko dan café yang artistik, untuk menggantikan pertokoan di tengah kota yang hancur karena gempa. Bahkan bank nya pun terletak di dalam container (hehehe, engga takut dirampok kalik ya secara Negara Selandia Baru tergolong aman dengan jumlah kriminalitas yang minim). Di area ini, terdapat toko Ballantynes yang sudah berdiri sejak tahun 1872. Mereka terkenal karena  manajemen kekeluargaannya. Dengan memperkerjakan orang local, mereka jarang memecat pegawainya. Bahkan ketika toko sempat tutup karena gempa, semua pegawainya masih dibayar utuh, padahal mereka tutup tidak sebentar, sampai berbulan-bulan, hebat ya.

Setelah puas mencuci mata dan berbelanja sedikit (sedikit kok, suer), saya kemudian menuju ke New Brighton Pier. Setelah memarkir mobil, saya berjalan ke arah dermaga di mana terdapat banyak orang lokal yang sedang memancing. Di sini, jangan sembarangan memancing. Kita harus mendapat ijin memancing terlebih dahulu dan ada peraturan seberapa banyak maksimal kita bisa menangkap ikan.

Setelah itu saya berjalan-jalan ke daerah pertokoan di seberang jalan dan (ehem) menemukan toko Ripcurl yang banting harga habis-habisan dengan diskon sampai 70 %. Bahkan kalau dikurskan ke rupiah, saya masih bisa membeli barang-barangnya lebih murah daripada di Indonesia. Setelah memilih-milih beberapa kaos yang ada tulisan ‘New Zealand’ nya, saya baru sadar kalau perut sudah mulai berontak dan lalu bergegas mencari makanan.

Saya membeli fish and chips, makanan yang biasa dikonsumsi para Kiwis, sebutan untuk penduduk di Selandia Baru (Kiwi di Selandia Baru bisa mengacu ke 3 hal: (1) Buah kiwi, (2) Burung kiwi, dan (3) Sebutan untuk penduduknya / New Zealander), dan minum L&P (Lemon dan Paeroa, minuman bersoda asli dari Selandia Baru). Kata penjualnya, makan fish and chips tidak akan lengkap tanpa minum minuman bersoda (mungkin kalau di Indonesia, seperti makan gorengan dengan minum kopi atau teh kalik ya). Di tempat saya membeli fish and chips, tidak disediakan kursi untuk duduk makan di dalam restoran, jadi saya memutuskan untuk makan di luar di tengah jalan pertokoan di mana terdapat banyak bangku-bangku.

Tidak jauh dari bangku tempat saya duduk, terdapat play ground untuk anak-anak. Menurut informasi yang saya peroleh, play ground banyak tersebar di seluruh tempat dan merupakan fasilitas gratis yang bisa digunakan oleh siapa saja. Wah bagus ya.

Karena angin yang mulai kencang, saya memutuskan untuk masuk ke perpustakaan New Brighton (tentunya setelah menghabiskan makanan saya) dan memilih untuk duduk di kursi yang menghadap ke dermaga dan lautnya. Rasanya tenang dan damai (apalagi ternyata gratis pula, tambah nyaman deh). Di dalam perpustakaan, selain terdapat buku, koran dan majalah, ada juga komputer untuk mengakses internet, headphone untuk mendengarkan audio book, bahkan ada televisi layar datar lengkap dengan Play Station untuk bermain. Waduh, alamat bakal betah nih di sini. Sayang, jam buka perpustakaan terbatas. Jadi karena saya masih ingin menunggu sunset, terpaksa saya pindah ke restoran di sebelah perpustakaan. Ketika senja tiba, langit tampak memerah di atas lautan dan lampu-lampu di dermaga pun mulai dinyalakan. Pemandangan yang indah untuk menutup hari saya.

Hari II:

Tujuan pertama saya pada hari ini adalah Hagley Park dan Botanical Garden, taman besar di tengah kota Christchurch. Di setiap musim, kita akan disuguhi pemandangan yang berbeda. Karena saat ini sedang musim semi, maka bunga-bunga sedang bermekaran dan pohon-pohon mulai bersemi dengan daunnya yang berwarna warni. Fantastis, seperti di dalam lukisan yang hidup.

Di dalam Hagley Park ada kolam renang dan play ground untuk anak-anak yang bisa dipakai gratis. Pada waktu saya di sini, saya menikmati duduk-duduk di tepi sungai Avon yang membelah taman sambil memandangi bebek-bebek yang sedang berenang.

Di sungai ini bukan hanya bebek dan ikan yang hanya bisa menikmatinya lho, hehehe. Kita pun bisa menyewa paddleboat dan kayak untuk mengarungi sungai. Aktivitas lain yang paling terkenal di area ini adalah Punting on the Avon, menaiki perahu kecil menyusuri sungai dengan disuguhi pemandangan taman, botanical garden, dan arsitektur kuno. Pengalaman punting hampir mirip dengan menaiki gondola di Venesia. Perahu kecil saya dipandu oleh seorang punter yang memakai seragam klasik dengan blazer bergaris-garis dan topi lebar. Si punter ini akan menggunakan tongkat panjang untuk mendorong dan menggerakkan perahu saya. Kalau cuaca sedang tidak bersahabat, kita bisa lho meminjam selimut wol dan payung di sini.

Setelah menyusuri sungai, saya berjalan ke arah Peacock Fountain untuk menuju Canterbury Museum. Di musim semi seperti ini, taman di area sekeliling Peacock Fountain dan Canterbury Museum ditanami beraneka warna bunga yang memang sengaja dibentuk dengan indahnya. Terdapat restoran terkenal di area ini, bernama Curator’s House. Setelah lama ditutup karena gempa, restoran ini akhirnya dibuka kembali. Sayang untuk makan, harus booking dulu jadi saya tidak sempat ke sini.

Canterbury Museum mempunyai koleksi yang sangat banyak dan mengandung nilai histori yang tinggi. Di sini saya bisa mengetahui mengenai sejarah Maori, penduduk asli Selandia Baru. Terdapat tur dengan pemandu yang bisa kita ikuti dengan donasi. Di Selandia Baru, istilah donasi biasanya identik dengan uang koin $2 sehingga sering pula disebut gold coin donation.

Tidak jauh dari Canterbury Museum, terdapat Art Gallery. Berbeda dengan bangunan Canterbury Museum yang bergaya gothic, Art Gallerysangat bergaya modern dengan banyak kaca yang menghiasi.

Ketika hari menjelang sore, saya memutuskan untuk pergi ke Sign of Takahe, bangunan cantik bergaya English Manor House. Tempat ini merupakan spot paling menarik untuk melihat pemandangan panorama kota Christchurch.

Perjalanan lalu saya lanjutkan melalui Governors Bay di mana saya ingin mengalami sunset di teluk dengan pemandangan ke arah Banks Peninsula. Sungguh cantik, saya mendapatkan nuansa yang berbeda dari pengalaman sunset di hari pertama.

Hari III:

Puas menjelajah kota, pada hari ke tiga, saya memutuskan untuk berkendara agak jauh dengan tujuan Mount Cook, gunung tertinggi di Selandia Baru dan selalu bersalju. Di sepanjang perjalanan, saya berhenti di beberapa spot untuk mengambil foto terutama di Lake Tekapo dan Lake Pukaki.

Lake Tekapo terkenal dengan airnya yang berwarna turquoise. Pas di tepi danau, terletak Church of Good Shepherd, sebuah gereja tua yang sering dijadikan background foto para turis (termasuk saya hehehe). Selama berada di Lake Tekapo, ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan, di antaranya adalah berendam di mata air yang jernih dan ice skating.

Spot berikutnya adalah Lake Pukaki. Danau ini terkenal akan refleksinya yang seperti cermin. Akan tetapi sayang, pada waktu itu saya belum menemukan refleksi yang dimaksud, hanya pantulan cahaya yang saya dapatkan di atas air.

Sesampainya di Mt Cook Village (yang sangat kecil areanya), saya beristirahat di Sir Edmund Hillary Alpine Center yang terletak di dalam hotel Hermitage, sambil makan beef roast dan minum segelas kopi panas. Setelah itu, masih di tempat yang sama, saya melihat-lihat koleksi museumnya. Sir Edmund Hillary terkenal sebagai one of the world’s greatest explorers dan merupakan pendaki pertama yang mencapai puncak Mt Cook pada tahun 1948. Kebayang ga sih bagaimana peralatan mendaki saat itu? Masih sangat sederhana lho.

Sebelum matahari terbenam, saya memutuskan untuk pulang kembali ke Christchurch. Rute yang saya ambil sedikit berbeda karena saya hendak menuju ke Mt Cook Salmon Farm terlebih dahulu.

Dari salmon farm dalam perjalanan pulang, tidak disangka saya mendapatkan suguhan yang ciamik di Lake Pukaki. Refleksi Mt Cook nya muncul sempurna di atas danau. Saya terpukau dan terpesona memandangnya. Saking takjubnya, rasanya malas untuk berkedip apalagi beranjak pulang. Pemandangan ini sungguh sangat sempurna untuk menutup perjalanan saya. Perfecto!

Getaway Nov 2012 (2)

(Dipublikasikan di Majalah Travelling ‘Getaway’ Indonesia edisi November 2012).

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s