Jalan kehidupan

(Renungan di kala malam…)

 

Manusia dan kehidupan, adalah dua mata sisi yang tak terpisahkan. Seperti kiri dan kanan, kalau tidak kiri ya kanan.

Tetapi jangan lupakan aspek kematian, yang berarti ‘tidak hidup’. Seperti kalau tidak ambil kiri atau kanan, berarti diam di tempat.

 

Manusia dan kehidupan, dihubungkan dengan suatu ‘jalan’. Bagi yang religius akan bilang itu ‘takdir’ atau ‘nasib’.

Sedang bagi yang bukan religius, akan bilang itu ‘kesempatan’ atau ‘peluang’.

 

Jalan kehidupan, bisa lurus atau berbelok-belok. Bisa datar atau naik-turun.

Ada yang bilang seperti roda yang berputar, tapi bagi para optimists akan memandangnya sebagai tangga yang selalu naik, begitu sebaliknya bagi para pessimists yang akan memandangnya sebagai turunan yang selalu ke bawah.

 

Jalan kehidupan bisa saja tertuliskan seperti buku tebal, texbook universitas, novel best-seller, atau panduan perjalanan laris. Bisa juga masih seperti on-going research nya mahasiswa pasca sarjana yang belum men-submitkan thesis nya.

 

Bagi saya, yang namanya ‘jalan’ ya berarti jalan. Manusia harus berjalan: dalam arti yang luas, bisa berlari, melompat, atau merangkak. Yang penting bergerak. Bergerak ke depan.

Ke mana?

Ya ke arah tujuan kita. Itulah yang disebut tujuan kehidupan. 

 

Jadi

 

Lalu

 

Ah, namanya juga manusia…yang susah digampangkan, yang gampang disusahkan

 

Lho kok

 

sudah…mari kita tutup renungan hari ini dengan bernafas dalam-dalam dan menghembuskan nafas pelan-pelan…

 

Selamat malam…

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s