tatkala kabar duka itu datang…dan saya belum bisa pulang…

Sore waktu New Zealand, saya menerima SMS dari Mama. Isinya cuma 2 kata, tapi bagi saya, kata-kata itu seperti beranak pinak dan membawa runtutan episode-episode kehidupan saya. SMS itu berisi: Yangkong meninggal

Saya sedih. Tapi saya berusaha untuk tidak menangis.

Sedih karena saya tidak bisa berada di sisi Yangkong, dan terpisah jarak dan waktu.

Saya tahu inilah salah satu konsekuensi belajar di luar negeri. Tatkala kita mendapatkan kabar duka, kita akan merasakan duka yang berlipat. Duka karena kehilangan dan juga duka kita tidak bisa berada di sana pada saat yang ‘tepat’.

Dalam kasus saya, saya tidak bisa pulang begitu saja karena saya harus memikirkan biaya dan ijin pergi overseas dari kampus dan pemberi beasiswa saya. Tetapi saya tidak mau membahas lebih lanjut mengenai hal ini.

Kali ini, ijinkan saya untuk bercerita tentang Yangkong saya. Ijinkan saya untuk mengenang beliau sehingga saya bisa tidur (agak) nyenyak malam ini.

Kenangan

Yangkong (eyang kakung = kakek dalam bahasa Jawa) adalah bapak papa saya. Saya punya ikatan batin yang erat dengan Yangkong karena bisa dibilang saya ini ‘anak’ Yangkong dan Yangti (eyang putri = nenek dalam bahasa Jawa). Ke dua orang tua saya bekerja, jadilah saya semasa kecil ditinggal dan diasuh oleh eyang saya. Bahkan saya masih sempat serumah dengan eyang sampai menjelang kuliah.

Saya masih ingat bagaimana Yangkong senang sekali ‘mendapatkan’ saya karena saya cucu pertama dan perempuan satu-satunya di keluarga (anak-anak Yangkong semua laki-laki). Saya digendong ke sana kemari, diantar jemput ke TK, dan bisa dibilang hampir dipingit karena hanya boleh keluar rumah jika bersama keluarga dekat.

Yangkong dulunya tentara, dan mungkin ini lah yang membuat beliau kaku dalam mengekspresikan perasaannya, tetapi saya masih bisa merasakan kasih sayangnya yang dalam kepada saya. Saya bisa merasakan keinginannya untuk melindungi saya.

Yang terpatri dalam ingatan saya adalah sosok beliau dengan pakaian favoritnya: kaos putih tipis, kemeja, celana gelap, sarung serta peci hitam. Yangkong juga senang bersenandung, menyanyi lagu-lagu Jawa. Beliau suka bubur tumpang (masakan khas Salatiga) sebagai sarapan dan makan jengkol dan pete untuk siangnya. Rokok tidak pernah terlepas dari tangannya dan selalu ada segelas kopi hitam menemaninya.

…..

Saya tidak ingin terlalu sedih dan masih berusaha untuk  tidak menangis.

Saya tahu saya harus merelakan beliau, terlebih karena beberapa penyakit yang hinggap di tubuh rentanya  beberapa tahun terakhir ini. Sungguh betapa menyedihkan melihat beliau yang begitu gagah menjadi kalah karena penyakit. Bahkan sampai sempat lupa nama anak-anak dan cucu-cucu nya…

Selamat jalan Yangkong. Maafkan cucumu ini tidak bisa datang ke upacara pemakaman Yangkong…Saya berjanji untuk melanjutkan perjuangan dan membuat Yangkong bangga.

(Foto ini diambil pada saat Lebaran 2010, yang kemudian menjadi foto terakhir dan Lebaran terakhir saya dengan Yangkong).

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s