‘Terpaksa’ menjadi duta pariwisata

Saya memang bukan ahli pariwisata, tapi di sini saya sering ‘terpaksa’ harus bisa menjadi duta wisata. Saya bukan penari tetapi pernah menari Saman, Poco-poco dan Sajojo di depan umum. Saya bukan penyanyi, tapi juga pernah menyanyi lagu tradisional dan kebangsaan di panggung.

Ga tanggung-tanggung, saya menari Saman dan menyanyi di depan Bapak Duta Besar Selandia Baru di acara Kongres Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Selandia Baru I, menari Poco-poco di acara International Night Lincoln University (di hadapan sekian ratus orang, yang jelas merupakan campuran berbagai bangsa di dunia), dan menari Sajojo di acara (New Zealand Aid) NZAID International Night University of Canterbury. Walaupun menarinya berombongan tetapi tetap saja bikin keder.

Sebagai ‘duta wisata’ (kadang-kadang kalau lagi lebay, saya sering merasa seperti diwawancarai Tantowi Yahya di panggung Puteri Indonesia, wahahaha maap ye…boleh dong sekali-kali mengkhayal 😀 ), minimal saya bisa menjelaskan Indonesia itu negara kepulauan dengan tremendous attracative culture. Setelah ber bla bla bla, biasanya mereka akan tertarik (entah karena saya memang pinter ngomong dan membuat penasaran mereka atau lebih karena basa-basi 🙂 ) dan menanyakan berapa harga tiket ke sana dan biaya hidup di sana serta tempat-tempat wisata apa saja yang bisa dikunjungi. Kalau jawaban standar sih saya bisa, misalnya kamu bisa berkunjung ke ini itu ini itu…, tapi kalau saya ditanya macam-macam, biasanya saya langsung berharap ada Om Google di situ 😦 maklum…sekali lagi saya bukan ahli pariwisata, saya ‘cuma’ orang Indonesia yang kebetulan pengen mempromosikan Indonesia. Tapi bagaimanapun juga saya merasa bahwa saya harus berbuat sesuatu. Paling tidak inilah yang bisa saya lakukan untuk negara saya tercinta.

AKU CINTA INDONESIA !

Advertisements

1 Comment

Comments are closed.